Sejak Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) lahir, sudah dua periode, memiliki wakil di DPR RI. Sebagai provinsi baru, selama dua periode memiliki wakil di pusat, hanya nama politisi Partai Golkar, DR Harry Azhar Azis, yang tetap bertahan. Bahkan, pada Pemilu 2009 lalu, pria kelahiran Tanjungpinang ini, menang telak dengan selisih suara cukup besar, dibanding pesaingnya.
Dukungan masyarakat yang cukup besar ini, dinilai Harry sebagai respon masyarakat, atas keberadaannya di DPR, pada periode sebelumnya. Atas dasar itu juga, Harry selalu menjaga komitmennya untuk tetap di barisan terdepan dalam perjuangan kepentingan Kepri di pusat.
Walau jadwalnya sebagai Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, dan Wakil Sekretaris DPP Partai Golkar cukup padat, namun dia selalu menyempatkan datang ke Kepri. Setidaknya, satu atau dua kali dalam sebulan dia meluangkan waktu berkunjung. Selain menjadi pembicara diberbagai forum-forum di Kepri, Harry juga selalu meringankan langkah untuk bersilaturahmi dengan warga.
Termasuk selalu meluangkan waktu untuk berkunjung di bulan Ramadan. Sejak menjadi wakil rakyat dalam dua periode ini, Harry sudah kerap menjalani puasa di Kepri. Terkadang, pria bergelar Doctor of Philosophy (PhD) Bidang Ekonomi di Oklahoma State University, Stillwater, Amerika Serikat ini membawa keluarganya.
“Puasa tahun ini, saya saja karena istri dan anak-anak sibuk. Kebetulan anak yang kuliah di Korea juga sedang datang ke Jakarta,” ujar ayah dari Mina Azhar, Hanifah Azhar dan Ibrahim Azhar ini.
Saat berkunjung, dia menggelar pertemuan dengan kader partainya, pihak pemerintah daerah, hingga Ormas dan LSM. Silaturahmi di bulan puasa, dijalani sekaligus untuk menerima masukan atau keluhan untuk diperjuangan di tingkat pusat.
“Sekarang kalau turun saat bulan puasa, agenda banyak. Kadang ceramah di masjid atau di perumahan. Kadang buka puasa bersama warga dan ini masih dilakukan,” ungkapnya.
Diakui suami Dr. Amanah Abdulkadir, MA ini, kehadirannya di Kepri, terutama di Tanjungpinang saat bulan Ramadan, selalu mengingatkannya, akan masa kecilnya dulu. Terlebih saat dia menjalani bulan puasa di ibu kota Provinsi Kepri ini.
“Memang, saya Ramadan di Tanjungpinang, hanya sampai SMP kelas 2. Namun, banyak kenangannya,” akunya.
Harry tidak menampik, perbedaan yang cukup jauh, menjalani ramadhan di Tanjungpinang, dimasa kecilnya dengan saat ini. “Dulu lebih syahdu. Sekarag rasanya dibarengi dengan segala macam “pesta pora” ibadah. Mungkin sekarang karena variasi produk lebih beragam,” imbuhnya.
Namun demikian, hingga saat ini ada pengalaman-pengalamannya saat kecil, yang sulit dilupakannya. Dia mengaku, saat masih kecil, pernah menjalani puasa setengah hari. Saat itu, orang tuanya mewajibkan anak-anaknya untuk berpuasa, namun diberikan keringanan.
Mereka diberikan kesempatan untuk puasa sejak pagi, namun siangnya makan. Setelah makan siang, puasanya dilanjutkan lagi. Namun belakangan, dia menyadari jika kegiatan puasa yang dijalaninya semasa kecil itu, dimaksudkan ibunya untuk melatih anak-anaknya.
“Itu pengalaman yang masih saya ingat. Kami sebut, puasa setengah hari. Jadi siang hari boleh makan oleh ibu saya, Tapi setelah itu, harus dianjutkan puasa sampai magrib,” ucap Harry sambil melepas tawanya.
Selain itu, diantara mereka anak-anak di Tanjungpinang, saat itu ada perlombaan. Anak-anak berlomba, untuk mengucapkan kata amin, dengan suara lantang dan kuat. Lomba suara paling kuat mengucapkan kata amin dilakukan saat tarawih.
“Kita berlomba untuk mengucapkan kata amien. Harus paling keras dan paling lama. Suara siapa paling keras dan lama, dia jagoannya,” kata Harry sambil senyum.
Kini, pengalaman masa kecil itu, menjadi cerita indah yang dibagi untuk anak-anaknya dan masyarakat mengikuti undangan ceramah atau berbuka puasa bersama warga.
“Bagi saya, kenangan apapun semasa kecil, kini menjadi kenangan yang nikmat dan tak terlupakan. Kenangan yang selalu mengingatkan saya dengan daerah kelahiran, Tanjungpinang yang masyarakatnya ramah dan berbudaya,” imbuhnya mengakhiri.(adv)


Belum ada komentar ... Jadilah yang pertama untuk meninggalkan komentar!